
Tata cara Umroh pada bulan Ramadhan pada dasarnya mengikuti rangkaian ibadah Umroh yang sama seperti pada waktu lainnya. Jamaah memulai dengan ihram dan niat, kemudian melaksanakan thawaf, sa’i, dan mengakhiri rangkaian Umroh dengan mencukur atau memotong rambut.
Yang perlu mendapat perhatian lebih selama Ramadhan adalah kondisi jamaah. Puasa, aktivitas di Masjidil Haram, waktu istirahat, dan kepadatan dapat memengaruhi kemampuan fisik sehingga ibadah perlu dijalankan dengan tertib dan tidak memaksakan diri.
Untuk program yang sedang aktif, Manasik memiliki Paket Umroh Full Ramadhan 2027 selama 32 hari dengan keberangkatan 9 Februari 2027. Rincian program terbaru dapat dilihat pada Umroh Ramadhan Manasik.
Ringkasan Tata Cara Umroh Ramadhan
Secara ringkas, rangkaian Umroh meliputi:
- mempersiapkan diri sebelum miqat;
- memasuki ihram dan berniat Umroh;
- menjaga larangan selama ihram;
- memperbanyak talbiyah;
- melaksanakan thawaf sebanyak tujuh putaran;
- melaksanakan sa’i dari Shafa ke Marwah sebanyak tujuh perjalanan; dan
- mencukur atau memotong rambut sebagai tahallul.
Setelah tahallul selesai, rangkaian Umroh telah selesai dan jamaah keluar dari kondisi ihram.
1. Persiapan Sebelum Miqat
Miqat merupakan batas tempat jamaah mulai memasuki ibadah Umroh dengan niat ihram.
Karena itu, persiapan sebaiknya dilakukan sebelum melewati miqat yang berlaku sesuai rute perjalanan jamaah.
Beberapa persiapan yang dapat dilakukan antara lain:
- membersihkan diri;
- mandi apabila memungkinkan;
- menyiapkan pakaian ihram;
- memastikan barang penting telah tertata;
- memahami lokasi atau waktu miqat sesuai perjalanan;
- mengikuti arahan pembimbing; dan
- mempersiapkan diri untuk memasuki keadaan ihram.
Jamaah yang menggunakan penerbangan atau rute tertentu perlu memperhatikan arahan pembimbing mengenai waktu persiapan ihram dan miqat.
Jangan menunggu hingga melewati miqat untuk baru memahami apa yang harus dilakukan.
Pakaian Ihram Laki-Laki
Laki-laki mengenakan dua lembar kain ihram.
Satu bagian digunakan untuk menutup bagian bawah tubuh dan satu bagian lainnya digunakan pada bagian atas.
Dalam kondisi ihram, jamaah laki-laki perlu memahami ketentuan pakaian yang berlaku.
Istilah yang sering disederhanakan sebagai “tidak memakai pakaian berjahit” sebaiknya tidak dipahami bahwa semua benda yang mempunyai jahitan otomatis dilarang.
Yang perlu diperhatikan adalah ketentuan pakaian laki-laki selama ihram sebagaimana dijelaskan dalam manasik dan bimbingan ibadah, termasuk tidak mengenakan pakaian yang dipakai mengikuti bentuk anggota tubuh seperti pakaian harian pada umumnya.
Apabila ragu mengenai pakaian tertentu, tanyakan kepada pembimbing sebelum berniat ihram.
Pakaian Ihram Perempuan
Perempuan tidak menggunakan dua lembar kain ihram seperti laki-laki.
Jamaah perempuan mengenakan pakaian yang memenuhi ketentuan menutup aurat dan sesuai dengan ketentuan ihram.
Tidak ada warna khusus yang wajib digunakan hanya karena sedang melaksanakan Umroh.
Yang lebih penting adalah pakaian nyaman digunakan, tidak menyulitkan aktivitas, dan sesuai ketentuan ibadah.
2. Niat Umroh dan Memasuki Ihram
Setelah tiba pada miqat sesuai perjalanan, jamaah berniat melaksanakan Umroh.
Sejak memasuki keadaan ihram, jamaah mulai terikat dengan ketentuan dan larangan ihram sampai menyelesaikan tahallul.
Karena itu, sebelum berniat pastikan kebutuhan dasar seperti pakaian dan barang penting sudah dipersiapkan.
Ikuti tata cara niat dan talbiyah sebagaimana diberikan dalam kegiatan manasik atau arahan pembimbing perjalanan.
3. Menjaga Larangan Ihram
Setelah berniat, jamaah perlu menjaga diri dari hal-hal yang dilarang selama ihram.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain larangan yang berkaitan dengan:
- memotong rambut;
- memotong kuku;
- penggunaan wewangian setelah memasuki ihram;
- hubungan suami istri;
- berburu hewan darat yang termasuk dalam ketentuan larangan ihram; dan
- ketentuan pakaian khusus bagi jamaah laki-laki.
Terdapat rincian hukum yang tidak semuanya dapat dijelaskan hanya dengan satu daftar singkat.
Karena itu, jamaah sebaiknya mengikuti manasik dan bertanya kepada pembimbing apabila mengalami keadaan tertentu selama ihram.
Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan informasi singkat dari media sosial atau percakapan sesama jamaah apabila menyangkut ketentuan ibadah.
4. Memperbanyak Talbiyah
Setelah berniat ihram, jamaah memperbanyak talbiyah dalam perjalanan menuju Makkah sampai memasuki tahapan thawaf sesuai tuntunan ibadah yang diikuti.
Selain talbiyah, perjalanan dapat diisi dengan zikir, doa, membaca Al-Qur’an, dan menjaga ketenangan.
Tidak perlu berteriak atau mengganggu jamaah lain.
Utamakan kekhusyukan dan ikuti koordinasi rombongan.
5. Memasuki Masjidil Haram
Ketika tiba di Masjidil Haram, jamaah perlu tetap mengikuti arahan rombongan dan pembimbing.
Area masjid dapat sangat luas dan ramai sehingga jamaah sebaiknya mengetahui:
- titik pertemuan;
- anggota kelompok;
- kontak pembimbing;
- jalur yang digunakan; dan
- rencana setelah thawaf.
Jangan meninggalkan rombongan tanpa koordinasi apabila Anda belum memahami area Masjidil Haram.
Jamaah lansia dan keluarga dengan anggota yang membutuhkan pendampingan perlu lebih berhati-hati.
6. Pelaksanaan Thawaf
Thawaf dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran.
Putaran dimulai sejajar dengan Hajar Aswad dengan Ka’bah berada di sebelah kiri jamaah.
Jamaah kemudian bergerak mengelilingi Ka’bah sampai kembali ke titik awal. Satu putaran dihitung ketika jamaah kembali sejajar dengan titik tersebut.
Proses dilanjutkan sampai tujuh putaran selesai.
Sebelum melaksanakan thawaf, ikuti bimbingan manasik mengenai persiapan bersuci dan ketentuan yang digunakan dalam pelaksanaan ibadah.
Adab Saat Thawaf
Kepadatan jamaah dapat berubah sehingga keselamatan dan ketertiban perlu dijaga.
Saat thawaf:
- jangan mendorong jamaah lain;
- jangan memaksakan diri mencapai Hajar Aswad;
- tetap mengikuti arah pergerakan jamaah;
- jaga barang pribadi;
- jangan berhenti mendadak di jalur orang berjalan;
- ikuti arahan petugas dan pembimbing; dan
- prioritaskan keselamatan apabila kondisi sangat padat.
Tidak perlu mengambil risiko hanya untuk mendekati titik tertentu.
Ibadah tetap dapat dijalankan tanpa menyakiti diri sendiri atau jamaah lain.
Apakah Ada Doa Khusus untuk Setiap Putaran Thawaf?
Jamaah tidak perlu merasa setiap putaran harus mempunyai rangkaian doa panjang yang berbeda.
Jamaah dapat berdoa, berzikir, membaca ayat Al-Qur’an, atau memanjatkan doa yang dipahami selama thawaf sesuai tuntunan yang dipelajari.
Hal yang lebih penting adalah menjaga kekhusyukan dan tidak mengganggu jamaah lain.
Jika menggunakan buku atau telepon untuk membaca doa, tetap perhatikan arah berjalan dan kondisi sekitar.
Sunnah bagi Laki-Laki Saat Thawaf
Dalam pelaksanaan Umroh terdapat beberapa amalan sunnah khusus bagi laki-laki yang perlu dipahami melalui bimbingan manasik.
Di antaranya berkaitan dengan membuka bahu kanan pada thawaf Umroh dan berjalan lebih cepat pada tiga putaran awal bagi jamaah laki-laki yang mampu dan dalam kondisi yang memungkinkan.
Jangan memaksakan amalan sunnah apabila kondisi kepadatan membuat tindakan tersebut berisiko.
Keselamatan jamaah tetap perlu diperhatikan.
Setelah Thawaf
Setelah menyelesaikan tujuh putaran, jamaah mengikuti rangkaian setelah thawaf sesuai tuntunan yang dipelajari dalam manasik.
Di antaranya terdapat shalat dua rakaat setelah thawaf apabila memungkinkan.
Jangan menghalangi jalur jamaah lain demi mendapatkan lokasi tertentu.
Masjidil Haram merupakan area ibadah yang digunakan sangat banyak orang sehingga jamaah perlu memperhatikan ketertiban.
Setelah itu, jamaah melanjutkan menuju area sa’i.
7. Sa’i antara Shafa dan Marwah
Sa’i dilakukan setelah thawaf.
Jamaah memulai dari Shafa kemudian berjalan menuju Marwah.
Perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali.
Perjalanan kembali dari Marwah ke Shafa dihitung berikutnya.
Jamaah melanjutkan sampai menyelesaikan tujuh perjalanan dan berakhir di Marwah.
Cara menghitung ini penting dipahami agar jamaah tidak salah menganggap satu perjalanan pergi-pulang sebagai satu hitungan.
Apa yang Dilakukan Saat Sa’i?
Selama sa’i, jamaah dapat berdoa dan berzikir sambil tetap memperhatikan kondisi tubuh dan jamaah lain.
Laki-laki yang mampu mengikuti ketentuan berlari kecil pada area yang ditandai di antara tanda hijau sesuai tuntunan.
Jamaah perempuan berjalan seperti biasa.
Tidak perlu berlari di seluruh jalur sa’i.
Sa’i untuk Jamaah Lansia atau Keterbatasan Mobilitas
Jamaah dengan keterbatasan fisik perlu menyesuaikan pelaksanaan dengan kondisi masing-masing.
Jangan memaksakan berjalan apabila kondisi kesehatan atau kemampuan fisik tidak memungkinkan.
Kebutuhan kursi roda atau bantuan mobilitas dapat dibicarakan dengan pembimbing dan keluarga.
Persiapan seperti ini sebaiknya sudah dibicarakan sebelum tiba di Tanah Suci.
Untuk persiapan praktis menjelang keberangkatan, baca Tips Persiapan Umroh Ramadhan Sebelum Berangkat.
8. Tahallul Setelah Sa’i
Setelah selesai sa’i, jamaah melanjutkan dengan mencukur atau memotong rambut.
Tahapan ini menandai selesainya rangkaian Umroh dan keluarnya jamaah dari keadaan ihram.
Bagi laki-laki, rambut dapat dicukur atau dipendekkan sesuai ketentuan.
Bagi perempuan, rambut dipotong pada bagian ujung sesuai tuntunan.
Jangan menganggap rangkaian Umroh sudah selesai sebelum tahallul dilakukan.
Sampai tahallul selesai, ketentuan larangan ihram masih perlu dijaga.
Apakah Harus Mencukur Habis Rambut?
Untuk jamaah laki-laki terdapat pilihan mencukur rambut atau memendekkannya.
Mencukur seluruh rambut memiliki keutamaan tersendiri, tetapi jamaah tetap perlu memperhatikan keadaan masing-masing.
Bagi perempuan, tidak dilakukan pencukuran seperti laki-laki. Rambut dipotong pada bagian ujung sesuai ketentuan ibadah.
Jika masih ragu mengenai jumlah atau cara pemotongan, tanyakan kepada pembimbing saat manasik atau sebelum melakukannya.
Setelah Tahallul
Setelah tahallul selesai, rangkaian Umroh telah selesai dan jamaah keluar dari keadaan ihram.
Setelah itu jamaah dapat mengganti pakaian dan melanjutkan aktivitas sesuai program perjalanan.
Namun, selesai Umroh bukan berarti seluruh perjalanan selesai.
Jamaah masih perlu menjaga kondisi tubuh, mengikuti jadwal rombongan, dan memanfaatkan waktu di Tanah Suci dengan baik.
Apakah Tata Cara Umroh Ramadhan Berbeda?
Rangkaian dasar ibadah Umroh tidak berubah hanya karena dilaksanakan pada bulan Ramadhan.
Jamaah tetap menjalani ihram, thawaf, sa’i, dan tahallul.
Yang berbeda adalah kondisi perjalanan.
Pada bulan Ramadhan, jamaah dapat menjalani:
- puasa;
- aktivitas malam yang lebih panjang;
- perubahan pola tidur;
- kepadatan;
- kebutuhan istirahat yang berbeda; dan
- suasana ibadah Ramadhan di Tanah Suci.
Karena itu, jamaah perlu mengatur tenaga dengan baik.
Menjaga Stamina Selama Umroh Ramadhan
Artikel ini fokus pada tata cara ibadah, tetapi kondisi tubuh tetap berkaitan langsung dengan kemampuan menjalankan rangkaian Umroh.
Jamaah sebaiknya:
- tidak memaksakan tubuh;
- memperhatikan waktu istirahat;
- menjaga kebutuhan cairan pada waktu yang memungkinkan;
- mengikuti kebutuhan obat pribadi;
- memperhatikan kondisi lansia; dan
- meminta bantuan apabila mengalami keluhan.
Persiapan fisik dan perlengkapan perjalanan sebaiknya dilakukan sejak sebelum keberangkatan agar jamaah lebih siap menjalani aktivitas ibadah selama Ramadhan.
Pentingnya Mengikuti Manasik
Membaca artikel dapat membantu memahami urutan dasar, tetapi tidak menggantikan pembelajaran manasik.
Melalui manasik, jamaah dapat:
- melihat simulasi;
- memahami urutan perjalanan;
- bertanya langsung;
- memahami larangan ihram;
- memahami kondisi khusus;
- mengenal pembimbing; dan
- mendapatkan informasi teknis perjalanan.
Jika menemukan perbedaan penjelasan mengenai rincian fiqih, tanyakan kepada pembimbing ibadah yang digunakan dalam program agar jamaah memahami dasar dan praktik yang akan diikuti.
Untuk persiapan perjalanan secara lebih menyeluruh, baca Panduan Umroh Ramadhan.
Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari
Beberapa hal yang sebaiknya dihindari selama pelaksanaan Umroh antara lain:
- tidak memahami lokasi miqat;
- baru mempersiapkan ihram setelah terlambat;
- kurang memahami larangan ihram;
- salah menghitung putaran thawaf;
- salah menghitung perjalanan sa’i;
- mendorong jamaah lain;
- memaksakan diri mendekati Hajar Aswad;
- terlalu sibuk menggunakan telepon saat ibadah;
- terpisah dari rombongan tanpa koordinasi;
- memaksakan tubuh dalam kondisi lemah; dan
- menganggap Umroh selesai sebelum melakukan tahallul.
Memahami alurnya sejak sebelum keberangkatan membantu jamaah lebih siap ketika menjalankan ibadah secara langsung.
Tata Cara Umroh untuk Jamaah Pertama Kali
Jamaah yang baru pertama kali berangkat tidak perlu merasa harus menghafal seluruh detail sekaligus.
Mulailah dengan memahami urutan dasar:
Ihram → Thawaf → Sa’i → Tahallul
Kemudian pelajari:
- kapan berniat;
- apa yang perlu dijaga saat ihram;
- bagaimana menghitung thawaf;
- bagaimana menghitung sa’i;
- kapan tahallul dilakukan; dan
- siapa yang dapat ditanya ketika mengalami kebingungan.
Ikuti pembimbing dan jangan ragu bertanya.
Tata Cara untuk Jamaah Lansia
Jamaah lansia tetap mengikuti rangkaian ibadah, tetapi kebutuhan mobilitas dan kondisi kesehatan perlu diperhatikan.
Keluarga sebaiknya mempersiapkan:
- pendamping;
- obat pribadi;
- kemampuan berjalan;
- alat bantu apabila diperlukan;
- titik pertemuan;
- waktu istirahat; dan
- koordinasi dengan pembimbing.
Tujuannya agar jamaah dapat menjalani ibadah sesuai kemampuan tanpa kehilangan koordinasi dengan rombongan.
Apakah Umroh Harus Dilakukan dengan Terburu-buru?
Tidak.
Rangkaian ibadah sebaiknya dijalankan dengan tertib dan sesuai kemampuan.
Kecepatan jamaah dapat berbeda berdasarkan usia, kondisi fisik, dan kepadatan.
Jangan menjadikan jamaah lain sebagai ukuran bahwa Anda harus berjalan atau menyelesaikan rangkaian dengan kecepatan yang sama.
Ikuti arahan pembimbing dan kondisi tubuh.
Keutamaan Umroh pada Bulan Ramadhan
Selain memahami tata cara pelaksanaannya, jamaah juga dapat mempelajari keutamaan Umroh pada bulan Ramadhan. Untuk pembahasan lebih lengkap, baca Keutamaan Umroh Ramadhan.
Checklist Sebelum Memulai Rangkaian Umroh
Sebelum memasuki ihram dan memulai rangkaian ibadah, jamaah dapat memastikan:
- memahami lokasi atau waktu miqat;
- pakaian ihram sudah siap;
- mengetahui kapan berniat;
- memahami larangan ihram;
- mengetahui urutan thawaf;
- memahami hitungan sa’i;
- mengetahui tahapan tahallul;
- mengetahui kontak pembimbing; dan
- kondisi tubuh memungkinkan mengikuti perjalanan.
Pertanyaan Umum tentang Tata Cara Umroh Ramadhan
Rangkaian dasar Umrohnya sama, yaitu memasuki ihram, thawaf, sa’i, dan tahallul. Pelaksanaan pada bulan Ramadhan membutuhkan perhatian tambahan pada stamina, pola istirahat, dan kondisi perjalanan.
Urutan dasarnya adalah ihram, thawaf, sa’i, kemudian tahallul.
Thawaf dilakukan sebanyak tujuh putaran mengelilingi Ka’bah.
Sa’i dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah setelah tujuh perjalanan.
Tidak. Shafa menuju Marwah dihitung satu perjalanan, sedangkan Marwah kembali menuju Shafa dihitung perjalanan berikutnya.
Rangkaian selesai setelah jamaah melakukan tahallul dengan mencukur atau memotong rambut sesuai ketentuan.
Laki-laki dapat mencukur atau memendekkan rambut. Ketentuan dan keutamaan masing-masing dapat dipelajari dalam manasik.
Tidak. Perempuan mengenakan pakaian yang sesuai ketentuan menutup aurat dan ketentuan ihram.
Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan perkiraan. Hubungi pembimbing atau pihak yang kompeten dalam bimbingan ibadah agar mendapatkan arahan sesuai keadaan yang dialami.
Pahami Urutannya Sebelum Berangkat
Tata cara Umroh Ramadhan akan lebih mudah dijalani apabila jamaah sudah memahami urutan dasarnya sebelum tiba di Tanah Suci.
Ingat rangkaian utama:
Ihram → Thawaf → Sa’i → Tahallul
Pelajari larangan ihram, cara menghitung thawaf dan sa’i, serta ketentuan tahallul melalui kegiatan manasik. Selama pelaksanaan, jaga ketertiban, kondisi tubuh, dan koordinasi dengan pembimbing.
Untuk melihat program yang sedang aktif, jadwal keberangkatan, dan rincian perjalanan terbaru, kunjungi Program Umroh Ramadhan Manasik.
