Surabaya, Aktual.com — Boleh percaya, boleh tidak. Tidak sedikit di antara 27.323 Haji asal Jawa Timur yang telah tiba di kampung halaman sejak kelompok terbang (kloter) terakhir datang pada 26 Oktober 2015 adalah orang-orang miskin.

Suparning adalah salah satu contoh. Ia hanyalah seorang tukang pemungut sampah di kampung, namun niat dan usaha yang sungguh-sungguh pun mengantarkannya pada sesuatu yang dicita-citakannya.

Secara logika, warga Asemrowo, Surabaya itu menjalani pekerjaan rendahan, tetapi nenek yang berusia sekitar 60 tahun tersebut ternyata mampu menunaikan rukun Islam yang kelima naik Haji ke Tanah Suci.

Untuk mencapai keinginannya tersebut, Suparning telah bekerja sangat keras, bahkan selama delapan tahun lamanya, wanita paruh baya tersebut menyisihkan sebagian hasil jerih payahnya sebagai tukang pemungut sampah pada kampung-kampung di Surabaya untuk ditabung.

Suparning yang memunyai empat anak dan empat cucu itu berkeyakinan suatu saat nanti dirinya akan bisa naik Haji ke Tanah Suci layaknya orang-orang yang berduit.

Atas keyakinan tersebut, dirinya selalu menyisihkan hasil dari kerja sebagai pemungut sampah di kampung untuk ditabung dan sebagian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Memang, untuk mewujudkan impian naik Haji ini penuh perjuangan, karena saya harus menabung selama delapan tahun lamanya. Delapan tahun tentu tidak sebentar,” ucapnya.

Namun, ia yakin Allah SWT pasti mengabulkan doanya untuk bisa melihat Kabah secara langsung.

Sekitar tahun 2009, Karyati mulai mendaftarkan KBIH Al Aziziyah Surabaya. Pada waktu itu, tabungannya dari hasil menjadi pemungut sampah sudah mencapai sekitar Rp20 juta.

Bermodalkan sebuah gerobak untuk mengambil sampah di kampung, dia bisa mengumpulkan uang Rp500 sampai Rp1.000 untuk ditabung.

Usaha yang dilakukan Suparning tidak sia-sia. Semua Hasil jerih payah dan keikhlasan hatinya membawa Suparning berangkat haji pada tahun 2015.

Suparning berangkat ke Tanah Suci pada 23 Agustus 2015 dengan Kloter 4/Surabaya dan tiba di Tanah Air pada 30 September 2015.

Nasib yang mungkin lebih mengenaskan daripada Suparning justru dialami Moch Anshori (78) asal Kelurahan Kepel, Kota Pasuruan, yang pekerjaannya tidak menentu.

Anshori tidak pernah membayangkan jika suatu ketika ia akan berangkat ke Tanah Suci.

“Sebenarnya saya tidak pernah membayangkan jika akan berangkat ke Mekah, namun karena saya memiliki tekad dan niat yang kuat,” tuturnya.

Oleh karena itu, dirinya setiap hari menabung mulai Rp1.000, Rp5.000, bahkan kalau ada rezeki bisa lebih dari itu.

Tekad yang kuat itu mendorong dirinya berangkat ‘kerja’ dari pagi buta hingga larut malam dengan maksimal hanya bisa mengantongi uang tak lebih dari Rp50.000.

Namun, ia meyakini akan ada jalan untuk menuju Tanah Suci.

“Selain kadang menjadi pengemis, saya juga harus mencari tambahan pemasukan dengan bekerja sebagai buruh tani agar saya tidak sampai punya utang,” katanya.

Ia mulai menyisihkan sebagian uang hasil “peras keringat” itu secara sedikit demi sedikit pada tahun 2003, kemudian ditabung pada seorang tetangganya, Hanafi.

“Selama menabung uang recehan itu, saya tidak pernah menghitung berapa besar yang telah saya kumpulkan,” ujar lelaki yang kadang menjadi buruh serabutan itu.

Setelah enam tahun berjalan, ia baru mengetahui jika tabungannya telah mencapai sekitar Rp20 juta.

Akhirnya, dengan ditemani anak angkatnya yang tinggal di Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan, ia pun memberanikan untuk mendaftarkan diri sebagai calon Haji.

Setelah bisa melunasi seluruh ongkos naik Haji, ia hanya bisa pasrah dan berserah diri kepada Tuhan. Empat ekor kambing yang menjadi satu-satunya harta kekayaan pun dijual untuk menambah biaya keperluan ibadah Haji.

Alhamdulillah, saya telah terdaftar dan masuk daftar antrian calon Haji. Untuk kapan berangkatnya, saya masih menunggu informasi dan berharap bisa segera naik Haji,” paparnya.

Sembari menunggu, dirinya secara keseharian pun tidak pernah berubah, termasuk menjadi buruh serabutan.

Gorengan, Kerupuk, Rujak Kegigihan dan ketangguhan hati juga dimiliki seorang penjual gorengan di Jember, Jawa Timur, yang mampu mewujudkan mimpinya untuk naik Haji.

Adalah Juni Durahman (60) yang menunaikan ibadah Haji bersama sang suami tercinta, Neman (70), dengan mengumpulkan hasil jerih payahnya selama 20 tahun.

Tak disangka ada pegawai Kemenag Kabupaten Jember yang memberitahu dirinya yang sehari-hari berprofesi sebagai penjual gorengan untuk berangkat ke Tanah Suci pada tahun 2015.

Alhamdulillah, saya dapat surat dari pegawai Kemenag untuk berangkat sekarang,” ujar ibu lima anak itu dengan logat Madura.

Ya, Juni dan suaminya berjualan beraneka macam gorengan setiap hari, diantaranya ote-ote, tape, onde-onde, tempe goreng, tahu petis, tahu goreng, tahu isi, sukun, serta molen.

Dalam kesehariannya, wanita yang berjualan di daerah Mangli, Derajad Udang Windu, Kabupaten Jember itu berjualan gorengan mulai dari pukul 14.00 siang sampai pukul 02.00 dini hari.

Dari hasil jual gorengan, dia bisa mendapatkan keuntungan Rp50.000 per hari kalau ramai, namun kalau sepi bisa meraup Rp40.000 per hari.

Pendapatannya tidak pasti, namun hasilnya sudah pasti untuk membeli bahan baku gorengan dan tanggungan anak bungsu yang tinggal di pesantren.

“Sisa keuntungannya, saya dapat menyisihkan Rp2.000 setiap harinya. Dalam setahun, uang yang bisa saya sisihkan itu langsung saya tabung ke bank,” tandasnya.

Dia tak punya lahan sawah, tapi hanya punya lahan pisang goreng sebagai modal kehidupan sehari-hari.

“Alhamdulillah, saya dan suami bisa berangkat haji pada tahun ini,” ujar Juni yang berangkat dengan Kloter 11/Surabaya pada 26 Agustus dan tiba pada 3 Oktober 2015.

Tidak jauh berbeda dengan profesi yang dijalani Juni adalah Sri Handayani. Ia merupakan penjual Kerupuk Bawang sejak tahun 2002 sampai sekarang.

Mata perempuan itu seketika memerah dengan bulir air mata yang mengalir saat bercerita tentang kegetiran hidupnya hingga dapat berangkat ke Tanah Suci.

Warga gang Masjid Sido Kabul, Kelurahan Panyuran, Kabupaten Tuban, Jawa Timur yang berusia 36 tahun itu bersama suaminya, Supriyadi (42), mempunyai dua anak.

Kebetulan, sang anak tercinta sejak lulus SD menuntut ilmu di Pesantren Kanjeng Sepuh Gresik dan Al-Muhtazam, Mojokerto, Jawa Timur.

Sri terdaftar sebagai rombongan Jamaah Haji Kloter 36/Surabaya yang berangkat pada 6 September 2015 dan tiba di kampung halaman pada 13 Oktober 2015.

Untuk mewujudkan mimpinya (naik Haji), Sri yang mengais rezeki dengan menjual kerupuk bawang itu setiap hari menabung untuk haji secara perlahan.

“Itu karena hasil utama tentang untuk biaya sekolah anak saya,” tutur Sri yang memang tinggal di kampung bermata pencaharian sebagai penjual kerupuk bawang itu.

Dalam sehari, Sri Handayani bisa menjual 700-1.000 biji kerupuk bawang yang dibelinya di pabrik pembuat kerupuk di daerah Panyuran, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

“Setiap malam pukul 19.00 WIB, saya mengambil kerupuk yang saya pesan sebelumnya dari pabrik, lalu saya membungkus setiap 10 biji,” urainya.

Dengan bantuan sang suami tercinta Supriyadi (42) yang berprofesi sebagai petani, maka kerupuk bawang yang sudah dibungkus itu siap dijual di Pasar Blimbing, Tuban pada pukul 06.00 WIB.

“Saya kalau nabung setiap hari harus menyisihkan Rp20.000 dari hasil jual kerupuk,” ungkap Sri yang setiap harinya bisa untung Rp100.000-Rp150.000 dari hasil jualan kerupuk bawang itu.

Dengan tekad yang besar, ia pun mendaftar berangkat Haji ke Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tuban pada tahun 2009 dan baru berangkat pada tahun 2015.

Bisa Haji, meski hidup pas-pasan juga dialami Ny Kami Alukariman Warsidi, penjual rujak asal Cerme, Gresik, Jawa Timur. Ia bisa berangkat Haji pada 1 September 2015.

“Setiap hari, keuntungan saya Rp100.000-Rp200.000 dari hasil jual rujak mulai pukul 07.00 WIB hingga 00.00 WIB, tapi sebagian saya tabung sejak tahun 2001 dan akhirnya bisa mendaftar Haji pada tahun 2009 dan berangkat tahun ini,” ujarnya.

(Ant)